Trend Kekerasan di Kolam Cupang vs Daun Pepaya

Kaya’ cupang aja… Ada temen-temen pulisi namparin temen-temen pulisinya. Ada temen-temen pelajar saling hantam, dihantam-hantam, menghantam-hantam, bahkan sama gurunya disuruh berhantam-hantaman. Ada temen-temen serdadu ditendangin temen-temen temennya. Ya kalo trendnya kekerasan gitu mbok ya di godhog plus daun pepaya semaleman aja biar jadi empuk.

BERSYUKURlah jika masih merasa dipercayakan memiliki AKAL dan BUDI, daripada cuphit1 yang gak punya itu, karena dengan itulah bekal manusia dalam beraktivitas di lingkungannya masing-masing. Ya kalo itu aja gak digunakan, jangan berani bilang menjadi manusia yang bisa bersyukur lah.

Setidaknya, kalo masih belum bisa gunakan itu, dan belum bisa menjadi manusia yang mensyukuri pemberianNya, bawalah banyak-banyak daun pepaya…Biar njeplak asal nyeplos….

5 Komentar

  1. untung saya udah sering bersyukur…

    Cuap Cupang,
    Alhamdulillah… mudah-mudahan kita semua lebih pandai bersyukur, Mas.

  2. wah, saya jadi ikutan prihatin nih, mbak any. sepertinya kekerasan sudah merambah ke berbagai lapis dan lini masyarakat. bahkan kepolisian yang notabene menjadi pengayom dan pelindung masyarakat. duh, kayak ndak ada kerjaan ajah!

    Cuap Cupang,
    Eh..Pak, nti mereka mbalikin kata lho.. Ngeblog? kaya ndhak ada kerjaan ajah….! 🙂

  3. sebenarnya kekerasan hanya di butuhkan bila mana perlu saja dan itupun pada saat yang sangat di butuhkan saja
    kalo kekerasan sudah melimpah wah jadi repot
    sangat memprihatinkan
    sedetail ini sampean mengamatinya ,,,,salut
    salam sukses dan semangat selalu

    Cuap Cupang,
    Makasih semangatnya Mas Genthokelir. Sukses juga bwat ettawanya. Boleh tuh dijadikan logo anti kekerasan, Mas. Dua kepala ettawa di hadepin sambil senyum mringis kedip mata..🙂

  4. saya jadi turut prihatin karena kekerasan sepertinya sudah menjadi budaya.
    terima kasih, ya. Sudah mengingatkan saya supaya rajin bersyukur.

    Cuap Cupang,
    Sama-sama terima kasihnya, Mas. Uraian budaya daerah Kalteng juga merupakan ungkapan syukur lho, Insyaalloh…🙂

  5. Hiks…segitu-gitunya yah MENGAMATI???
    Jangan-jangan pernik-pernik kekerasan yg terjadi ini ada kaitannya dengan putaran roda kehidupan kali yah???. Apa dah saatnya jaman ini sampai pada titik kulminasi kembali pada jaman peradaban PURBA???.

    Cuap Cupang,
    kita bikin pilem aja yuk, flinston millenium….

    Budi Pekerti dah gak begitu DOMINAN lagi di pojok Keluarga, Sekolahan, apalagi di lingkungan Masyarakat.

    Ahhhgk…sepertinya fenomena REBUTAN TULANG lebih disukai ketimbang DAGINGNYA…..Plthaaaaakkk…ketimpuk Tulang.

    Nice Postingnya….
    Numpang selonjoran kaki diteras ini yah..

    Cuap Cupang,
    monggo..monggo ajah…


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s