Refleksi Berpuasa : dari Catatan Kang Hasan

Merasakan keluhan beberapa teman yang di rantau, di negeri sekuler, ini menjalani ibadah shaum ramadan dan mengambil pelajaran darinya, rasanya cukup berarti dan layak untuk dibagi buat teman-teman yang lain untuk sama-sama mengambil hikmahnya. Beberapa komentar yang cukup mengelus dada, sehingga ada teman yang kebetulan merantau juga di negeri orang yang mendiskusikannya di Facebook.  Terima kasih Mas Panji buat inspirasinya, sekalipun cuman ngopi paste tapi renungan itu sangat layak kita refleksikan kembali buat ibadah kita.

Minoritas Muslim Berpuasa

Oleh kanghasan – 20 Augustus 2009 – Dibaca 3381 Kali – dari http://public.kompasiana.com/2009/08/20/minoritas-muslim-berpuasa/

Sudah hampir sepuluh tahun saya bermukim dan melewatkan suasana bulan Ramadhan di Jepang. Sudah kurang lebih sepuluh kali bulan Ramadhan saya lalui sebagai bagian dari 100 ribu muslim di tengah 120 juta penduduk Jepang. Itu berarti sudah selama itu pula saya menjalani kehidupan sebagai seorang muslim minoritas. Pengalaman beribadah dan berdakwah, khususnya suasana bulan Ramadhan, sungguh berbeda dengan yang sebelumnya saya alami di negeri sendiri, di mana Islam merupakan agama mayoritas. Perbedaan itu, untungnya, justru memberikan banyak pelajaran berharga untuk direfleksikan bagi kehidupan beragama di tanah air.

Ramadhan di Jepang adalah Ramadhan yang hening. Di malam hari kita tak mendengar peningkatan volume keriuhan suara karena ada tambahan suara dari mesjid-mesjid. Pun tak ada suara dari ritual membangunkan orang untuk sahur. Setiap orang mengatur sendiri waktu shalat, sahur, atau berbuka puasa berdasarkan jadwal shalat yang informasinya dengan mudah diperoleh di internet.

Kaum muslimin juga tidak mendapat “perlindungan” khusus dari pemerintah Jepang yang sekuler itu. Tidak ada anjuran untuk menghormati orang yang berpuasa, karena sebagian besar masyarakat Jepang bahkan tidak tahu bahwa kita sedang berpuasa.

Sake (minuman keras) memiliki tempat yang penting dalam budaya dan dunia bisnis Jepang. Karenanya di manapun kita akan dengan mudah menemukan kedai sake atau bar yang bergaya barat. Di kawasan tertentu tempat-tempat minum hadir bersama hiburan malam dengan wanita/pria penghibur. Jenis hiburan yang disediakan beragam, dari yang sekedar teman minum hingga teman tidur.

Semua tempat minum dan hiburan itu tentu saja tetap berbisnis seperti biasa sepanjang bulan Ramadhan. Tak ada peraturan yang membuat mereka harus menghentikan bisnis dalam rangka menghormati bulan Ramadhan atau orang-orang yang sedang berpuasa.

Demikianlah, minoritas muslim di Jepang tetap khusuk menjalankan ibadah selama bulan Ramadhan meski tidak dibuat kondisi khusus untuk itu. Tempat-tempat ibadah berupa mesjid dan islamic center di beberapa kota tertentu, ruangan di kedutaan, kampus, atau ruangan apa saja yang disulap menjadi tempat ibadah sementara, dipenuhi hadirin untuk shalat berjamaah, tadarus, atau pengajian. Tidak diperlukan suara hiruk pikuk untuk membuat orang hadir di tempat ibadah.

Kaum muslimin yang sedang berpuasa tidak merasa terganggu oleh aktivitas makan-minum orang-orang Jepang di tempat umum. Mereka bahkan tidak merasa terganggu dengan tetap beroperasinya tempat-tempat hiburan malam. Alasannya sederhana, karena keseharian mereka memang tidak pernah bersinggungan dengan aktivitas di tempat-tempat tersebut.

Singkat kata, kaum muslimin dapat beribadah dengan tenang dan khusuk tanpa memerlukan pengkondisian secara khusus. Karenanya berbagai pengkondisian menjelang dan selama bulan Ramadhan di tanah air patut dipertanyakan urgensinya.

Seperti kita ketahui, banyak peraturan khusus yang dikeluarkan pemerintah daerah dalam rangka menghormati bulan Ramadhan dan orang yang berpuasa. Tempat-tempat hiburan malam harus ditutup selama bulan Ramadhan. Di beberapa daerah ada Perda yang melarang orang berjualan makanan atau makan di tempat umum di siang hari. Tujuannya adalah agar orang-orang tak terganggu puasanya.

Saya masih sulit memahami kalau aktivitas makan-minum orang lain bisa mengganggu puasa kita. Demikian lemahkah iman kita sehingga kita bisa tergoda hanya dengan melihat orang lain makan? Demikian pula, mungkinkah kekhusukan ibadah kita terganggu dengan aktivitas di tempat hiburan malam kalau kita sama sekali tidak pernah mengunjungi tempat-tempat itu?

Puasa adalah ekspresi ketundukan. Puasa adalah ekspresi hubungan khusus antara hamba dengan Khaliknya. Puasa semestinya dilakukan dalam kesunyian relung pribadi. Tapi yang kita lakukan justru sebaliknya. Kita mengumumkan puasa kita. Bahkan kita menuntut orang untuk menghormati kita.
Lalu, ibadah malam kita tak jarang riuh rendah, hampir semuanya kita lakukan dengan loud-speaker bertenaga besar. Mulai dari azan, shalat, ceramah, zikir, tadarus, hingga aktivitas membangunkan orang untuk sahur. Ramadhan, bagi sebagian non-muslim adalah bulan dengan peningkatan intensitas kebisingan.

Masihkah tersisa ekspresi ketundukan dalam puasa yang demikian itu? Wallahu a’lamu.

Sendai, 28 September 2006

2 Komentar

  1. Renungan yang mendalam…
    Puasa di negeri sendiri terkadang memang menganggu umat lain.
    Cuap Cupang
    Begitulah masyarakat negeri kita Pak…maunya dimengerti tapi gak mau mengerti….susah jadi manusia (cupang mode : on)🙂

  2. jadi merenung juga nich…
    Cuap Cupang
    Mari kita renungi bersama….karena ini saat yang tepat, dan mari segera berbenah….sebelum terlambat….


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s